,

Gara-Gara Sakit Hati, Kini Sosok Ini Malah Jadi Bos Supercar

oleh -92 Dilihat
oleh
Img 20240129 Wa0001

Serumpunsebalai.com, Bologna – Siapa yang tidak mengenal Lamborghini, supercar yang harganya miliaran dan dipakai kalangan atas Indonesia itu, ternyata diproduksi akibat kekesalan seorang Ferruccio Lamborghini.

Ferruccio Lamborghini, kelahiran Cento Italia pada tahun 1913, tumbuh dalam keluarga petani dan ayahnya mengajarkan soal mekanik dan teknologi. Minatnya di otomotif terus diasah di Institut Teknik di Fratelli Taddia Bologna.

Keahliannya dalam memperbaiki kendaraan membuat Angkatan Udara Italia merekrutnya sebagai pemimpin satuan pemeliharaan kendaraan. Perang Dunia usai, Ferruccio mendirikan bisnis produksi traktor dan alat pertanian. Nyatanya, bisnis ini membuat Ferruccio makin dikenal di Italia.

Layaknya pengusaha sukses dan hobinya akan dunia otomotif, Feruccio mulai mengoleksi berbagai mobil mewah diantaraya Jaguar, Alfa Romeo, Maserati, Mercedes hingga Ferrari. Dari koleksi-koleksi inilah, cikal bakal supercar Lamborghini meluncur di jalanan.

Ferruccio membeli Ferrari 250 GT pada tahun 1968. Namun, dia menilai mobil itu terlalu rapuh, kopling yang kurang presisi dan berisik. Dia mengeluhkan kualitas tersebut kepada Enzo Ferrari dan berakhir dengan jawaban, “Masalah bukan pada mobilnya, namun pengemudinya. Urus saja traktormu, daripada mengkoreksi mobil saya!”

Sejak itu, Ferruccio memodifikasi Ferrari 250 GT miliknya dan akhirnya memproduksi Lamborghini 350 GT yang memiliki warna seperti Ferrari pada tahun 1963. Produk ini dijual setahun kemudian dengan kuantitas 120 unit.

Meski terbilang sukses, Ferruccio juga sempat mengalami badai dalam bisnis otomotif. Pada tahun 1974, omzet bisnis traktornya anjlok dan dengan terpaksa Ferruccio menjual sahamnya kepada Fiat. Sejak dikendalikan Fiat, penjualan mobil mulai melesat namun lagi dan lagi krisis minyak di tahun 70-an membuat Lamborghini kembali merugi. Tahun 1978, Lamborghini dinyatakan bangkrut.

Dua tahun setelahnya, Mimram Brother mengambil alih perusahaan namun tak ada prestasi yang apik dari Banteng Ngamuk. Investor pun datang silih berganti dari Chrysler Corporation hingga orang Indonesia.

Chrysler yang sempat mengalami krisis di tahun 90-an, terpaksa melepas sahamnya di Lamborghini pada konsorsium V’Power Corporation dan Mycom Setdco. V’Power sendiri dimiliki oleh putra Presiden Soeharto, Tommy Soeharto. Sementara itu, Mycom adalah grup investasi asal Malaysia yang mayoritas sahamnya dipegang oleh Setiawan Djodi. Perusahaan ini mengakusisi Lamborghini dengan nilai 40 juta dolar AS.

Krisis moneter datang menerpa dan akhirnya konsorsium itu menjual kepada Volkswagen – Audi dengan nilai cukup lumayan hingga 110 juta dolar AS.

Dalam kunjungan eksklusif CNBC Indonesia ke Museum dan bahkan ke pabrikannya di Bologna Italia, presisi jadi nomor satu bagi Lamborghini. Bahkan ada satu mobil yang diproduksi by handmade dan memakan waktu cukup lama. Meski bangga dengan supercarnya, Lamborghini sadar bahwa tidak semua orang suka dengan mobil yang meraung dan sedan yang sempit. Lamborghini memproduksi mobil lainnya seperti SUV dan juga khusus militer. (Reza)

Artikel ini telah tayang di CNBC Indonesia dengan judul “Gara-Gara Sakit Hati, Kini Sosok Ini Malah Jadi Bos Supercar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *