,

Belajar dari Ikan Betok

oleh -107 Dilihat
oleh
Img 20240204 Wa0006

Serumpunsebalai.com, Yogyakarta – Teringat dengan kenakalan saya waktu kecil, suatu ketika bapak mencari-cari saya yang tak kunjung pulang sampai hampir maghrib. Waktu itu saya bersama teman-teman SD asyik memancing ikan betok seukuran telapak tangan anak kelas 4 SD di sungai kecil di belakang rumah teman di desa sebelah dengan menggunakan umpan capung.

Di kesempatan lain, aku menghabiskan waktu berjam-jam saat liburan sekolah untuk memancing ikan ini dengan ukuran lebih besar di kolam besar di dekat rumah kakekku, pamanku yang bekerja di Jakarta yang kebetulan sedang mudik dengan bangga memamerkan hasil pancinganku kepada istrinya yang berasal dari Gunungkidul, sebuah daerah tandus di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta seolah berkata, “Sayangku, lihatlah betapa kayanya alam di Bojonegoro” hehehe…

Memori indah masa anak-anak itu kembali terkenang saat saya menjumpai ikan betok dijual di pasar Karah, Surabaya. Mungkin belum ada orang yang membudidayakannya, waktu ibu penjual ikan saya tanya mengenai asal muasal ikan itu beliau menjawab, “Dari rawa, Mas”.

Nama ilmiah ikan ini Anabas testudineus, Orang Jawa menyebutnya iwak bethik, barangkali berasal dari kata mbethik yang berarti bandel, disebut demikian mungkin karena kemampuannya bertahan cukup lama di luar air. Seperti halnya ikan lele dan ikan gabus, ikan ini mampu menyerap oksigen langsung dari udara karena insangnya dilengkapi alat canggih yang disebut labirin. Dalam bahasa Inggris ia disebut climbing gouramy atau climbing perch karena kemampuannya merangkak naik ke daratan. Tutup insangnya bisa berfungsi sebagai semacam kaki untuk bergerak di darat. Saat musim kemarau, kemampuannya merangkak ini digunakan untuk mencari genangan air yang lebih nyaman.

Sisiknya keras seperti baju zirah Samurai, sirip punggungnya dilengkapi duri-duri yang tajam seperti bayonet tentara, namun di dalam baju zirah dan bayonet itu tersimpan daging yang gurih dan lezat. Makanan utamanya adalah serangga atau jentik nyamuk, itulah sebabnya kami lebih mudah memancingnya dengan dengan umpan capung atau belalang daripada dengan umpan cacing.

Saya lalu merenung, ternyata Tuhan menciptakan si betok ini bukan Cuma sebagai sumber protein bagi umat manusia, banyak juga pelajaran yang bisa kita ambil dari betok:

1. Kuat dan Mudah Beradaptasi

Zaman sekarang memang manusia harus memiliki sifat demikian, pasar bebas dan globalisasi membuat kita mau tidak mau harus mampu bersaing, beradaptasi di segala kondisi dan mampu bergaul dengan siapa pun jika tak mau dikucilkan zaman.

2. Punya Jati Diri Sebagai Suatu Bangsa

Jati diri adalah harga mati, suatu bangsa akan kehilangan identitas bila mudah ikut-ikutan dengan budaya K-Pop dan semacamnya. Identitas yang adiluhung ini harus dijaga dengan kebanggaan terhadap apa yang kita punya, seperti betok yang melindungi dagingnya yang gurih dengan sisik keras dan sirip berduri

3. Berani Ambil Resiko

Peradaban manusia akan mandeg jika seandainya manusia cepat puas dan berhenti dengan hasil yang diperoleh sekarang. Kita tidak boleh terbuai dengan zona nyaman, langkah ekstrem perlu diambil meski itu beresiko demi mendapat hasil yang lebih baik, seperti betok yang berani keluar dari kolamnya, merangkak naik ke daratan untuk mencari kolam yang lebih banyak terdapat makanan. (Reza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *