,

Anomali Ledakan Suara Tidak Masuk Akal, PSI Jadi Sorotan Tajam!

oleh -77 Dilihat
oleh

Serumpunsebalai.com, Jakarta – Lonjakan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang hampir mendekati ambang batas parlemen 4 persen menuai kecurigaan banyak pihak.

Dilihat berdasarkan real count Komisi Pemilihan Umum (KPU), Minggu (3/3/2024) sekira pukul 09.00 WIB, suara PSI berada di angka 3,13 persen dengan data masuk 65,80 persen.

Perolehan suara partai pimpinan putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep itu menuai tanda tanya dari banyak pihak, salah satunya datang dari Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis.

“Lonjakan suara secara tidak masuk akal dialami oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI satu-satunya partai yang mengalami lonjakan suara sangat tajam itu dalam kurun waktu dan rentang persentase suara masuk yang sama,” kata Ketua Pusat Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Julius Ibrani dalam keterangannya, Minggu (3/3/2024).

Julius mewakili PBHI sebagai anggota dari Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis turut mempertanyakan faktor suara PSI yang dalam enam hari terakhir mengalami lonjakan drastis.

Pada Sabtu (2/3/2024) sekira pukul 13.00 WIB, suara PSI telah mencapai 3,13 persen, mendekati ambang batas 4 persen. Padahal, dalam pantauan Koalisi Masyarakat Sipil, hasil real count data dari 530.776 TPS per Senin (26/2/2024), suara PSI hanya sebesar 2.001.493 suara atau 2,68 persen.

“Bagi Koalisi Masyarakat Sipil yang sangat akrab dengan data riset serta terbiasa membaca tren dan dinamika data, lonjakan persentase suara PSI di saat data suara masuk di atas 60 persen itu tidak lazim dan tidak masuk akal,” ujar Julius.

“Koalisi sudah menduga penggelembungan suara akan terjadi bersamaan dengan penghentian penghitungan manual di tingkat kecamatan dan penghentian Sirekap KPU,” tambahnya.

Oleh sebab itu, Koalisi Masyarakat Sipil mendesak agar DPR segera mengambil langkah hak angket, sebagai hak konstitusi untuk mengevaluasi proses pelaksanaan pemilu membongkar dugaan kecurangan pemilu 2024.

“Agar menggunakan hak konstitusional mereka untuk membongkar kejahatan pemilu pada pemilu 2024, khususnya melalui penggunaan hak angket,” tegas Julius.

Anomali Lonjakan Suara PSI, KPU Ditantang Audit Forensik

Secara terpisah, pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen, Roy Suryo, mengakui adanya keanehan dalam data real count KPU. Sebab, adanya perolehan suara PSI yang meroket dibandingkan partai lainnya yang cenderung landai.

“Hal ini memang aneh, sebab kecenderungan atau tren pergerakan perolehan partai biasanya masih akan berjalan serempak mengikuti pola perolehan yang sudah ada,” kata Roy.

“Bahwa ada satu dua yang kemungkinan saling fluktuatif bisa dimaklumi. Namun jarang atau bahkan tidak mungkin hanya partai tertentu saja yang naik, sedangkan lain-lainnya tidak,” tambah Roy.

Secara detail, Roy mengungkap, pada tanggal 15 Februari 2024, suara PSI masih 2,68 persen. Namun pada tanggal 1 Maret 2024, suara PSI sudah tembus 3,02 persen. Bahkan ketika pukul 10.00 WIB mencapai 2.319.968 atau sekitar 3,03 persen. Kemudian naik lagi pada pukul 16.00 WIB dengan angka 2.393.774 (bertambah 83.343) alias sudah 3,12 persen.

“Pertambahan jumlah 83 ribu ini hanya dari 110 TPS ini saja sudah tidak masuk akal sehat. Sebab jika dihitung 83.343 dibagi 110, maka perolehan PSI di tiap TPS mencapai 757 lebih, padahal 1 TPS rata-rata hanya berisi 250 sd 300 suara saja,” bebernya.

“Kesimpulannya, anomali ini terjadi secara tidak wajar dan sulit dimengerti oleh akal orang waras,” ucap Roy.

Akibat anomali secara tidak wajar berdasarkan input data real count yang dilakukan Sirekap, Roy pun meminta agar segera lakukan audit forensik IT KPU dan sekaligus audit investigatif Sirekap, agar terbuka dengan jelas untuk menjawab pertanyaan publik. (Retok)

Sumber: Liputan 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *